Veritaserum Effect - Yusuke Sawada to Marshall Connor
Yusuke Sawada, Gryffindor, Ramuan 1975
VERITASERUM
Pengertian Veritaserum: Veritaserum, ramuan kejujuran yang akan membuat yang meminumnya mengaku dari hati terdalam.. sejujur-jujurnya dan terkadang, di bawah alam sadar. Maksudnya tidak terduga sama sekali oleh otak, karena ramuan ini memaksa peminumnya jujur secara spontan hingga tak sempat berpikir.
Fungsi Veritaserum: Membuat peminumnya berkata sejujur-jujurnya secara spontan, tapi hanya jika efek ramuan masih ada. Setiap tetes Veritaserum memberikan setidaknya beberapa kejujuran yang bisa keluar dari mulut peminumnya, jadi ada jangka waktunya sendiri, mungkin. Dalam percobaan kali ini tiga tetes untuk tiga pertanyaan yang berarti jika diberikan tiga gelas Veritaserum, peminumnya akan terus berkata jujur. Tentu saja hingga efek ramuan itu pudar. Pertanyaan dan cerita sekonyol apapun akan terjawab dengan jujur, sangat terjamin.
Partner: Marshall Connor, Gryffindor
Tiga pertanyaan yang diberikan dan jawabannya:
1. Q: Pernah makan kotoran?
A: Entahlah, rasanya pernah sih, tapi aku sendiri tidak yakin. Benda gelap kecil berbentuk oval...masuk ke dalam serealku. Aku nekat saja memakannya dan rasanya....yaks!! Kuduga itu kotoran tikus yang jatuh dari atap rumahku.
2. Q: Kenakalan dan keisengan terparah apa yang pernah kau lakukan?
A: Saat pelajaran olah raga kelas 5, ada satu anak sedang dikerjai geng bengal yang terkenal di kelasku. Entah apa yang ingin mereka lakukan pada anak itu, yang pasti saat aku datang, ada dua anak memegangi kedua tangan anak malang itu. Kau tahu, anak itu melayangkan senyum terima kasih padaku saat aku mendekat ( padahal aku masih belum memutuskan untuk menolongnya ). Tapi apa yang kulakukan, alih-alih menolongnya, aku malah menurunkan celana olah raganya, beserta calana dalamnya yang aku ingat betul bercorak garis-garis vertikal. Aku mendapatkan beberapa ucapan terima kasih dari teman-teman perempuan sekelasku, karena memberi mereka tontonan 'benda imut berbelalai'.
3. Q: Masih menyesal masuk Gryffindor?
A: Tidak ada yang berubah dengan penilaianku terahadap Gryffindor. Yang pasti Gryffindor sedikit lebih baik dari pada Ravenclaw yang membosankan atau Hufflepuff yang kebanyakan penghuninya terlalu banyak omong. Untuk Slytherin, rasanya aku masih terlalu baik hati untuk masuk ke asrama bengis itu.
Alasan memberikan pertanyaan itu:
1. Pertanyaan yang keluar di otak pertama kali.. mungkin pengaruh melihat kotoran Merpati di kaca jendela kastil tadi pagi.
2. Setiap orang punya kenakalan terhebat, dan saya penasaran akan kenakalan terparah Marshall. Pasti menarik.
3. Well, saya masih ingat kalau di tahun pertamanya Marshall sempat menyatakan kekecewaannya masuk Gryffindor. Anggap saja pertanyaan iseng.
Kesimpulan:
Manjur dan jujur. Apa yang keluar dari mulut benar-benar spontan! Segera dijawab dalam waktu sepersekian detik setelah pertanyaan diajukan, singkat maupun panjang. Tak perlu disangsikan.
Fungsi Veritaserum: Membuat peminumnya berkata sejujur-jujurnya secara spontan, tapi hanya jika efek ramuan masih ada. Setiap tetes Veritaserum memberikan setidaknya beberapa kejujuran yang bisa keluar dari mulut peminumnya, jadi ada jangka waktunya sendiri, mungkin. Dalam percobaan kali ini tiga tetes untuk tiga pertanyaan yang berarti jika diberikan tiga gelas Veritaserum, peminumnya akan terus berkata jujur. Tentu saja hingga efek ramuan itu pudar. Pertanyaan dan cerita sekonyol apapun akan terjawab dengan jujur, sangat terjamin.
Partner: Marshall Connor, Gryffindor
Tiga pertanyaan yang diberikan dan jawabannya:
1. Q: Pernah makan kotoran?
A: Entahlah, rasanya pernah sih, tapi aku sendiri tidak yakin. Benda gelap kecil berbentuk oval...masuk ke dalam serealku. Aku nekat saja memakannya dan rasanya....yaks!! Kuduga itu kotoran tikus yang jatuh dari atap rumahku.
2. Q: Kenakalan dan keisengan terparah apa yang pernah kau lakukan?
A: Saat pelajaran olah raga kelas 5, ada satu anak sedang dikerjai geng bengal yang terkenal di kelasku. Entah apa yang ingin mereka lakukan pada anak itu, yang pasti saat aku datang, ada dua anak memegangi kedua tangan anak malang itu. Kau tahu, anak itu melayangkan senyum terima kasih padaku saat aku mendekat ( padahal aku masih belum memutuskan untuk menolongnya ). Tapi apa yang kulakukan, alih-alih menolongnya, aku malah menurunkan celana olah raganya, beserta calana dalamnya yang aku ingat betul bercorak garis-garis vertikal. Aku mendapatkan beberapa ucapan terima kasih dari teman-teman perempuan sekelasku, karena memberi mereka tontonan 'benda imut berbelalai'.
3. Q: Masih menyesal masuk Gryffindor?
A: Tidak ada yang berubah dengan penilaianku terahadap Gryffindor. Yang pasti Gryffindor sedikit lebih baik dari pada Ravenclaw yang membosankan atau Hufflepuff yang kebanyakan penghuninya terlalu banyak omong. Untuk Slytherin, rasanya aku masih terlalu baik hati untuk masuk ke asrama bengis itu.
Alasan memberikan pertanyaan itu:
1. Pertanyaan yang keluar di otak pertama kali.. mungkin pengaruh melihat kotoran Merpati di kaca jendela kastil tadi pagi.
2. Setiap orang punya kenakalan terhebat, dan saya penasaran akan kenakalan terparah Marshall. Pasti menarik.
3. Well, saya masih ingat kalau di tahun pertamanya Marshall sempat menyatakan kekecewaannya masuk Gryffindor. Anggap saja pertanyaan iseng.
Kesimpulan:
Manjur dan jujur. Apa yang keluar dari mulut benar-benar spontan! Segera dijawab dalam waktu sepersekian detik setelah pertanyaan diajukan, singkat maupun panjang. Tak perlu disangsikan.
Labels: 1975-1976, Veritaserum Effect




0 Comments:
Post a Comment
Subscribe to Post Comments [Atom]
<< Home